Aku Bangga Bermental Tempe: Super Food from Indonesia
Tulisan Opini Mingguan Tahun 2026
Prof. Dr, Isnawati, M.Si.
Wakil Dekan Bidang I FKP
"Kalau
mentalmu tempe, kamu tidak akan pernah jadi orang besar."
Kalimat itu pernah
begitu akrab di telinga saya. Kalimat itumeluncur ringan, seolah sebuah
kebenaran yang tidak perlu diperdebatkan. "Mental tempe" menjadi
metafora bagi seseorang yang rapuh, penakut, mudah menyerah, tidak percaya
diri, bahkan dianggap kelas dua. Ironisnya, bangsa yang melahirkan tempe justru
sering malu menyebut namanya. Saya justru mempunyai pandangan sebaliknya.
Aku
bangga bermental tempe.
Sama sekali saya tidak ingin menjadi lemah, melainkan
karena saya sangat memahami apa sebenarnya yang terjadi di balik terbentuknya sepotong
tempe. Mereka yang menggunakan istilah "mental tempe" sebagai hinaan
mungkin belum pernah mengenal kehidupan yang bekerja dalam proses terbentuknya
tempe. Mereka yang hanya melihat hasil akhir saja, tetapi tidak memahami
perjuangan yang melahirkannya. Tempe lahir dari kerja keras beragam makhluk
tidak kasat mata ciptaan Allah, dan bukan makanan yang lahir dari kemalasan. Ia
adalah hasil kerja keras jutaan makhluk hidup yang berkolaborasi dengan
disiplin kerja yang nyaris sempurna.
Segenggam kedelai
tidak serta-merta berubah menjadi tempe tanpa ada proses yang menakjubkan, yang
mungkin menimbulkan penderitaan. Kedelai harus direndam berjam-jam, dikelupas
kulitnya, dicuci berulang kali, yang selanjunya direbus, dan ditiriskan hingga
kadar airnya tepat. Selanjutnya kedelai memasuki fase paling sunyi dalam
hidupnya. Padanya diinokulasikan beragam kapang dari genus Rhizopus,
terutama Rhizopus oligosporus, Rhizopus microsporus, Rhizopus
oryzae atau kerabat dekatnya. Setelah itu tidak ada suara. Tidak ada tepuk
tangan. Tidak ada panggung, tempe dibungkus dan diperam dalam tempat yang aman.
Hanya kesabaran. Selama
sekitar dua hari, jutaan kerabat Rhizopus akan menumbuhkan benang-benang
halusnya yang disebut miselium. Benang-benang itu mulai tumbuh perlahan,
menampilkan warna putih nan lembut yang nyaris tak terlihat. Namun dalam
diamnya ia bekerja tanpa lelah. Miselium itu bukan sekadar benang kehidupan. Pada
proses terbentuknya tempe ia adalah jembatan yang mempersatukan butiran-butiran
kedelai yang semula tercerai-berai menjadi satu tubuh yang utuh. Ia juga
menambahkan aneka ragam zat gizi yang bermanfaat pada tempe yang sedang ia
bentuk. Di balik kesederhanaannya, tempe menghadiahkan peptida bioaktif,
vitamin B kompleks, mineral yang lebih mudah diserap, asam lemak tak jenuh,
lesitin, serat pangan, serta fitoestrogen (genistein dan daidzein) hasil
fermentasi keluarga Rhizopus. Ia bukan sekadar pangan, melainkan simfoni
bioteknologi Nusantara yang menyehatkan tubuh dengan kelembutan alam, sehingga
sangat tepat disebut “Super Food from Indonesia”
Bukankah manusia
juga seharusnya demikian? Yang kuat bukanlah yang hidup sendiri, melainkan yang
mampu menyatukan banyak perbedaan menjadi kekuatan bersama. Di dalam proses
itu, kapang menghasilkan berbagai enzim yang bekerja seperti orkestra yang
terlatih. Protease memotong protein kompleks menjadi peptida dan asam amino
yang lebih mudah dicerna oleh tubuh kita. Amilase mengurai pati menjadi gula
sederhana. Lipase memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Fitase
mengurangi kadar asam fitat sehingga mineral seperti besi, seng, dan kalsium
menjadi lebih mudah diserap tubuh.
Yang menakjudkan
adalah Semua berlangsung tanpa gaduh, tak ada konferensi pers, tak ada unggahan
media sosial, hanya kerja ikhlas memenuhi takdirnya. Ini pelajaran berikutnya
dari tempe, perubahan besar sering kali lahir dari kerja yang senyap. Masih ada
pelajaran lain yang bisa kita petik dari tempe. Menariknya, kapang Rhizopus
tidak datang untuk menguasai kedelai. Ia datang untuk hidup bersama.
Benang-benang miseliumnya menyelimuti setiap biji, bukan untuk menghancurkan,
melainkan memperkuat ikatan di antaranya. Fermentasi bukanlah peperangan antara
dua makhluk hidup, melainkan perundingan panjang yang menghasilkan kehidupan
baru. Kedelai memang kehilangan bentuk asalnya, namun ia memperoleh nilai yang
jauh lebih tinggi. Begitulah sebaiknya hidup.Kadang kita harus rela kehilangan
sebagian ego agar memperoleh versi diri yang lebih baik. Dalam dunia pangan,
proses ini disebut fermentasi. Dalam kehidupan, mungkin kita menyebutnya
pendewasaan. Saya sering berpikir, mengapa justru tempe yang dipilih menjadi
simbol kelemahan? Mengapa bukan makanan lain? Padahal jika kita menengok
laboratorium, tempe adalah salah satu keajaiban bioteknologi tradisional
Nusantara. Sebelum istilah "bioteknologi" diajarkan di ruang kuliah,
nenek moyang kita telah mempraktikkannya di dapur. Mereka mungkin tidak
mengenal istilah enzim, metabolit sekunder, atau fermentasi aerob, tetapi
mereka memahami ritme kehidupan melalui pengalaman turun-temurun.
Ilmu pengetahuan
modern kemudian datang, bukan untuk membantah tradisi itu, melainkan
menjelaskan keagungannya, memaparkan aspek ilmiahnya. Para peneliti menemukan
bahwa fermentasi meningkatkan kecernaan protein, memperbaiki cita rasa,
memperkaya senyawa bioaktif, bahkan menghasilkan komponen yang bersifat
antioksidan. Kandungan oligosakarida penyebab perut kembung berkurang. Asam
fitat menurun. Beberapa vitamin, terutama kelompok vitamin B, meningkat karena
aktivitas mikroorganisme selama fermentasi.Artinya, tempe bukan sekadar makanan
murah.Ia adalah pangan cerdas. Dihasilkan dari kerjasama penuh keserasian, yang
bekerja dalam diam dengan hasil luar biasa.
Sayangnya, kita
masih sering mengukur martabat makanan dari harga, bukan dari ilmu yang
dikandungnya.Semakin mahal, semakin bergengsi.Semakin sederhana, semakin
diremehkan. Padahal alam tidak pernah bekerja berdasarkan label sosial.Kapang
tidak pernah bertanya apakah kedelai itu akan dimakan orang kaya atau orang
miskin. Enzim tidak pernah memilih kepada siapa manfaatnya akan diberikan.Fe rmentasi
tidak mengenal kasta.Yang ia kenal hanyalah proses. Dari sinilah saya merasa makna
"mental tempe" perlu direvisi.
Mental tempe berarti mampu bertahan
dalam kesabaran menjalani proses panjang , saya sangat ingin memilikinya. Mental
tempe ternyata mau berubah menjadi lebih baik melalui pembelajaran, saya sangat
bangga memilikinya. Mental tempe berarti mampu hidup berdampingan dengan
makhluk lain dalam hubungan yang saling menguntungkan, saya sangat ingin terus
belajar darinya. Mental tempe ternyata tetap rendah hati meskipun bernilai
tinggi, dan itulah karakter seorang ilmuwan sejati? Subhanallah tempe tidak
pernah mempromosikan dirinya, tidak membutuhkan kemasan mewah untuk membuktikan
kualitasnya, nilainya lahir dari substansi, bukan pencitraan. Pada era ketika
manusia berlomba-lomba terlihat hebat, tempe justru mengajarkan bahwa menjadi
berguna jauh lebih penting daripada sekadar tampak mengesankan. Seandainya Rhizopus
oligosporus mampu berbicara kepada kita, ia akan menyampaikan bahwa,
"Aku
hanya jamur kecil yang nyaris tak terliha, aku tidak pernah sibuk membuktikan
bahwa aku hebat. Aku hanya melakukan tugasku dan menjalani takdirku sebaik
mungkin. Sisanya biarlah waktu yang menunjukkan hasilnya."
Betapa sederhana,
betapa bijaksana. Pelajaran bagi kita yang hidup di era serba Wah! dan tempe
menjadi bernilai karena miliaran miselium memilih bekerja bersama daripada
saling mengalahkan. Sudah saatnya saya harus belajar menjadi tempe. Belajar
bahwa perubahan memerlukan kesabaran. Belajar bahwa ilmu dapat tumbuh
berdampingan dengan budaya. Belajar bahwa kekuatan sejati tidak selalu
berteriak. Dan belajar bahwa kesederanaan dapat menyimpan kecerdasan luar
biasa. Bangsa yang besar harus bangga pada pangan tradisionalnya, harus mampu
membaca ilmu pengetahuan yang tersembunyi di baliknya. Tempe bukan simbol kelemahan
namun simbol kesabaran, transformasi,
kolaborasi, ketekunan, kesederhanaan dan kerendahan hati yang menghasilkan
prestasi. Jika itu yang dimaksud dengan "mental tempe", maka saya
tidak sekadar menerimanya, saya merayakannya dan “Aku bangga bermental tempe”
Melalui narasi
reflektif yang mendalam, esai opini "Aku Bangga Bermental Tempe ini secara
substantif merelevansikan filosofi bioteknologi lokal sebagai motor penggerak
pencapaian agenda global berkelanjutan, yang menyentuh setidaknya tujuh pilar
kemanusiaan secara sirkular. Manifestasi tempe sebagai "Super Food from Indonesia" berkontribusi
langsung pada upaya menghapus
kemiskinan dan mengakhiri
kelaparan melalui penyediaan sumber pangan padat gizi berbasis kearifan
lokal yang terjangkau oleh seluruh kasta sosial. Orkestra enzim dan peptida
bioaktif hasil fermentasi Rhizopus
menjadi fondasi kuat dalam menjamin kehidupan sehat dan sejahtera bagi masyarakat. Lebih
jauh, proses edukasi berbasis sains modern yang membongkar keagungan tradisi
Nusantara ini merefleksikan pemenuhan hak pendidikan berkualitas yang berakar pada budaya
bangsa. Nilai inklusivitas fermentasi yang tidak mengenal kasta sosial dan
kasta ekonomi juga menjadi pemantik penting bagi berkurangnya kesenjangan di tengah masyarakat. Pada
dimensi produksi, transformasi kedelai menjadi produk bernilai tinggi ini
mengajarkan pola konsumsi dan
produksi yang bertanggung jawab melalui pemanfaatan mikroorganisme yang
minim emisi. Terakhir, falsafah miliaran miselium yang saling mengikat tanpa
berniat saling mengalahkan menjadi analogi sosiologis yang sangat indah bagi
kokohnya kemitraan untuk
mencapai tujuan, membuktikan bahwa dari sepotong tempe, Indonesia tidak
hanya menyumbang nutrisi, tetapi juga cetak biru peradaban yang damai,
kolaboratif, dan berkelanjutan.
Share It On: