PERAN STRATEGIS ORMAWA MEWUJUDKAN KAMPUS AMAN
Peran Strategis Ormawa: Bersinergi Bersama PPIS Mewujudkan Kampus Unesa yang Aman dan
Humanis
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) terus memperkuat komitmennya dalam menciptakan lingkungan
akademik yang sehat melalui penguatan peran Organisasi Mahasiswa (Ormawa). Dalam diskusi Focus
Group Discussion (FGD) terbaru, Direktorat Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis (PPIS)
menekankan bahwa Ormawa memiliki posisi tawar yang besar sebagai garda terdepan dalam
mendeteksi dan mencegah potensi kekerasan di kampus. Melalui sinergi ini, mahasiswa diharapkan
tidak lagi menormalisasi tindakan sekecil apa pun, baik secara verbal maupun non-verbal, yang dapat
memicu pelecehan seksual maupun tindakan perundungan.
Salah satu poin krusial yang dibahas adalah pentingnya memutus rantai kekerasan yang sering kali
berlindung di balik kedok "bercanda" atau jokes. PPIS mengedukasi mahasiswa agar lebih peka
terhadap penggunaan kata-kata kasar yang bisa berujung pada tindakan bullying. Tidak hanya itu,
diskusi ini juga menyoroti kerentanan di dalam internal organisasi itu sendiri, di mana penyalahgunaan
posisi atau jabatan sering kali menjadi celah terjadinya tindak kekerasan. Oleh karena itu, Ormawa
didorong untuk menjadi wadah yang aman dan inklusif, bukan justru menjadi tempat subur bagi
praktik-praktik senioritas yang destruktif.
Sebagai langkah konkret, PPIS Unesa menaungi dua unit pelaksana utama, yakni Satgas Mitigasi Crisis
Center (SMCC) dan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK). Kedua pihak ini memiliki
peran vital sebagai pusat pengaduan dan penanganan bagi korban yang mengalami kekerasan seksual,
perundungan, hingga diskriminasi. Kehadiran mereka memastikan bahwa setiap laporan yang masuk
akan ditindaklanjuti secara profesional sesuai dengan hukum yang berlaku. Dengan adanya sistem yang
terstruktur, Unesa menjamin bahwa tidak ada ruang bagi pelaku kekerasan untuk merasa aman di
lingkungan universitas.
Guna mendukung keberanian korban dalam bersuara, PPIS telah menyediakan layanan pelaporan
berbasis web khusus yang dirancang untuk menjamin keamanan identitas pelapor. Langkah ini diambil
untuk mengatasi ketakutan akan stigma atau intimidasi yang sering kali menghambat korban dalam
mencari keadilan. Dengan privasi yang terjaga ketat, setiap civitas akademika diharapkan merasa
terlindungi saat melaporkan oknum yang mencoreng nama baik almamater, sehingga proses
pemulihan bagi korban dan pemberian sanksi bagi pelaku dapat berjalan secara objektif.
Melalui upaya preventif dan kuratif ini, Unesa berupaya keras membersihkan lingkungan kampus dari
oknum-oknum yang dapat merusak masa depan mahasiswa dan citra institusi. Pemberian sanksi yang
tegas, mulai dari skala ringan hingga berat, menjadi bukti nyata bahwa Unesa tidak menoleransi segala
bentuk kekerasan. Dengan kolaborasi aktif antara PPIS, Satgas, dan seluruh elemen mahasiswa, visi
untuk mewujudkan "Kampus Aman" bukan sekadar slogan, melainkan sebuah realitas yang dijaga
bersama demi keberlangsungan pendidikan yang bermartabat.
Selain fokus pada penanganan kekerasan, PPIS Unesa juga menekankan pentingnya literasi informasi
bagi seluruh pengurus Ormawa. Para aktivis kampus diberi edukasi dan pelatihan khusus agar tidak
mudah terjebak dalam arus berita yang belum terverifikasi kebenarannya atau hoaks. Hal ini sangat
krusial karena penyebaran informasi yang salah di tingkat organisasi dapat memicu konflik internal dan
menjadi faktor permasalahan baru yang merugikan nama baik lembaga serta individu di dalamnya.
Edukasi ini bertujuan untuk menciptakan pemimpin organisasi yang memiliki daya kritis tinggi sebelum
mengonsumsi atau menyebarkan informasi. Dalam pelatihan tersebut, ditekankan bahwa
ketidakmampuan memfilter informasi dapat merusak objektivitas dalam mengambil keputusan.
Dengan memiliki pemahaman literasi yang kuat, Ormawa diharapkan mampu menjadi penyaring
informasi di tengah mahasiswa dan menjaga stabilitas suasana kampus agar tetap kondusif dan
produktif.
Lebih jauh lagi, PPIS menyoroti isu sensitif terkait kesehatan mental dan perilaku, seperti bahaya
ketergantungan pada konten pornografi. Para peserta diberikan pemahaman mendalam mengenai
dampak negatif dari kecanduan digital tersebut yang dapat merusak pola pikir dan menurunkan
produktivitas akademik. Edukasi ini menjadi sangat penting mengingat paparan konten negatif di era
digital dapat mengaburkan fokus mahasiswa dalam menjalankan tanggung jawabnya sebagai agen
perubahan.
Melalui pendekatan yang humanis, mahasiswa diajak untuk memiliki kontrol diri yang kuat dalam
mengelola hasrat dan emosi. Fokus utama dari pelatihan ini adalah mendorong setiap individu untuk
mengalihkan energi mereka pada kegiatan yang bersifat pengembangan diri dan pencapaian prestasi.
Dengan menjauhi perilaku destruktif, mahasiswa dapat lebih konsisten dalam merancang masa depan
yang cerah dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar.
Langkah preventif ini merupakan bentuk kepedulian Unesa dalam menjaga kualitas mental civitas
akademikanya. Dengan membekali Ormawa melalui edukasi mengenai pengendalian diri dan literasi
informasi, universitas berharap dapat mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual,
tetapi juga memiliki integritas moral yang tinggi. Pada akhirnya, perbaikan diri secara berkelanjutan
adalah kunci utama untuk mewujudkan lingkungan kampus yang bermartabat dan terbebas dari segala bentuk penyimpangan prilaku.
Share It On: