Potensi Mass Spectrometry Imaging untuk Mendukung Riset Ketahanan Pangan Indonesia
Ketahanan
pangan adalah topik yang terus dibicarakan, tetapi masih sering kali dipahami
secara sempit. Kita membayangkan sawah yang luas, peningkatan produksi beras, atau
teknologi pertanian yang makin efisien. Padahal, di era perubahan iklim yang
semakin tidak menentu, ketahanan pangan tidak hanya soal ketersediaan. Ia juga
menyangkut kualitas, keamanan, dan kemampuan tanaman untuk bertahan hidup
di bawah tekanan lingkungan. Untuk memahami ini semua, kita membutuhkan
pendekatan riset yang lebih presisi dan berbasis data. Salah satu teknologi
yang mulai mencuri perhatian dunia adalah Mass Spectrometry Imaging
(MSI).
MSI
mungkin terdengar sangat teknis, tetapi konsepnya sebenarnya sederhana:
teknologi ini memetakan molekul seperti lipid, metabolit, bahkan protein secara
langsung pada jaringan tanaman tanpa melalui destruksi jaringannya. Jika
mikroskop membuat kita melihat bentuk dan struktur, MSI membuat kita
“melihat” peta kimia di baliknya. Teknik ini memberikan kita informasi
molekul apa yang ada di suatu titik jaringan, seberapa banyak jumlahnya, dan
bagaimana distribusinya berubah ketika tanaman mengalami stres atau berkembang.
Dengan
pendekatan seperti ini, MSI menjadi alat yang sangat potensial untuk mendukung
riset ketahanan pangan di Indonesia. Negara agraris sebesar ini memerlukan
teknologi yang tidak hanya mengamati tanaman dari luar, tetapi mampu memahami
apa yang terjadi di dalam.
Membaca
Respon Tanaman terhadap Stres Lingkungan
Tantangan
terbesar tanaman pangan saat ini adalah perubahan iklim: kekeringan ekstrem,
salinitas lahan, perubahan musim tanam, dan serangan penyakit yang semakin
sulit diprediksi. Kita tahu tanaman memiliki mekanisme bertahan yang kompleks, dimana
mekanisme ini sering terjadi pada level molekul dan tidak terlihat oleh mata.
Dengan
MSI, peneliti dapat memetakan metabolit yang muncul saat tanaman mengalami
stres. Misalnya, akumulasi osmolite pada akar saat kekeringan, atau perubahan
profil lipid membran ketika tanaman diserang patogen. Informasi ini sangat
berharga untuk pemulia tanaman. Mereka bisa mengidentifikasi varietas yang
paling adaptif jauh sebelum dilakukan uji lapangan berskala besar. Proses
pemuliaan yang biasanya memakan waktu bertahun-tahun bisa dipersingkat dengan
data molekuler yang lebih akurat.
Memahami
Kualitas dan Nutrisi Pangan
Ketahanan
pangan juga erat kaitannya dengan kualitas nutrisi. Pangan yang melimpah tidak
akan begitu berarti jikah tidak memberikan nutrisi. Di titik inilah MSI kembali
memberikan sudut pandang baru. Misalnya teknologi ini dapat memetakan
distribusi nutrisi di dalam biji, baik itu fosfolipid, asam amino, vitamin,
maupun senyawa bioaktif. Contoh lainnya, riset berbasis MSI pada beras
menunjukkan bagaimana komponen nutrisi tertentu dapat terkonsentrasi pada
bagian bulir beras tertentu. Pemahaman ini penting untuk mengembangkan varietas
unggul, teknik pengolahan yang lebih baik, atau strategi fortifikasi yang tepat
sasaran.
Pengalaman
riset saya pada beras sake menggunakan MSI memperlihatkan betapa kaya informasi
yang bisa digali. Distribusi fosfolipid tertentu ternyata sangat dipengaruhi
oleh tingkat pemolesan beras. Pengetahuan ini bukan hanya relevan untuk
industri sake, tetapi juga untuk riset beras Indonesia—mulai dari kualitas
rasa, daya simpan, hingga nilai gizinya.
Menjembatani
Riset Dasar dan Terapan
Salah
satu kekuatan MSI adalah kemampuannya menjadi jembatan antara riset dasar dan
terapan. MSI memiliki potensi implementasi yang sangat luas, seperti:
·
membantu pemulia menyeleksi bibit unggul,
·
meningkatkan keamanan pangan melalui deteksi mikotoksin,
·
memahami mekanisme ketahanan tanaman,
·
dan mengoptimalkan proses pengolahan pangan.
Ini
menjadikan MSI sebagai teknologi yang bisa mendukung program nasional ketahanan
pangan dari berbagai sisi.
Kampus
dan Peneliti Indonesia Harus Mulai Melirik MSI
Tidak
dapat dipungkiri, alat ini membutuhkan investasi besar dan keahlian teknis yang
tidak sedikit. Namun, manfaat jangka panjangnya sangat signifikan. MSI dapat
menjadi pusat unggulan riset yang menarik kolaborasi internasional,
meningkatkan kualitas publikasi, serta memperkuat kapasitas kampus dalam riset
pangan presisi. Indonesia justru memiliki posisi strategis untuk mengembangkan
teknologi ini karena keragaman hayati dan pangan lokal yang sangat kaya.
Langkah
awal tidak harus langsung membeli instrumen. Kampus bisa memulai dari kerja
sama dengan institusi yang sudah memiliki fasilitas MSI, mengirim
dosen/mahasiswa untuk pelatihan, dan melakukan pilot project penelitian pada
komoditas lokal seperti beras, sagu, kedelai, atau tanaman obat.
Ketahanan
pangan masa depan membutuhkan cara pandang baru—bahwa kualitas, keamanan, dan
ketahanan biologis tanaman sama pentingnya dengan kuantitas produksinya. Dengan
kemampuan memetakan dunia molekul secara presisi, Mass Spectrometry
Imaging membuka pintu menuju pemahaman yang lebih dalam tentang tanaman pangan
kita.
Jika
Indonesia ingin melangkah lebih jauh dalam inovasi pangan, inilah saatnya
memasukkan MSI sebagai salah satu strategi riset unggulan. Karena untuk
menghadapi masa depan yang penuh tantangan, kita membutuhkan ilmu yang mampu
melihat sampai ke inti kehidupan itu sendiri.
Share It On: