Melodi Kebersamaan di Selasar S-2: Pentas Seni FERION 2025 Rayakan Harmoni Ilmu dan Budaya
Sabtu
sore, 20 Desember 2025, menjadi puncak dari curahan ekspresi bagi seluruh
sivitas akademika Fakultas Ketahanan Pangan (FKP) UNESA. Melanjutkan kemeriahan
Lomba Catwalk yang memukau, suasana di Selasar Gedung S-2 Kampus UNESA 3
kembali berdenyut dengan energi baru melalui gelaran Lomba Pentas Seni. Sebagai
rangkaian penutup kompetisi di hari kedua FERION 2025, ajang ini bukan sekadar
panggung unjuk gigi, melainkan ruang bagi mahasiswa untuk merayakan keberagaman
bakat di luar koridor laboratorium dan ruang kuliah.
Pentas
Seni ini diramaikan oleh tim-tim berbakat dari lima program studi selingkung
FKP, yakni S1 Agribisnis Digital, S1 Akuakultur, S1 Biosains Hewan, S1
Bioteknologi, serta S1 Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP). Berbagai
pertunjukan ditampilkan dengan apik, mulai dari alunan akustik yang
menghangatkan suasana hingga tarian (dance) modern dan tradisional yang
membakar semangat. Selasar S-2 berubah menjadi saksi bagaimana para calon ahli
pangan masa depan ini mampu menyatukan perbedaan disiplin ilmu menjadi satu
harmoni pertunjukan yang sangat menyentuh hati.
Secara
humanis, pentas seni ini memberikan pesan bahwa ketahanan pangan tidak hanya
dibangun di atas fondasi logika dan riset, tetapi juga di atas fondasi rasa dan
budaya. Seni mengajarkan mahasiswa tentang empati, ritme, dan keindahan—nilai-nilai
yang sangat dibutuhkan saat mereka terjun ke masyarakat nantinya. Melalui seni,
FKP UNESA ingin membentuk karakter mahasiswa yang luwes dan peka terhadap
kearifan lokal, karena inovasi pangan yang paling berhasil adalah inovasi yang
mampu menyentuh sisi kemanusiaan dan diterima oleh hati masyarakat.
Salsa
Qurrota, mahasiswa S1 Bioteknologi selaku
Koordinator Sie Pentas Seni FERION 2025, menyampaikan rasa bangganya atas
totalitas para peserta. "Melihat teman-teman melepas atribut
penelitinya sejenak dan bertransformasi menjadi seniman di atas panggung ini
sungguh luar biasa. Kami ingin membuktikan bahwa mahasiswa FKP memiliki jiwa
yang dinamis. Melalui musik dan tari, kami sedang bercerita tentang semangat
perjuangan dan kekeluargaan antarprodi. Pentas seni ini adalah cara kami
mengisi 'nutrisi batin' agar ke depan kami bisa melangkah lebih kreatif dan
penuh dedikasi bagi masyarakat," tutur Salsa dengan mata berbinar.
Keunggulan
FKP UNESA kembali bersinar melalui pendekatan pendidikan yang holistik. Dengan
memberikan ruang yang setara bagi pencapaian akademis dan ekspresi artistik,
fakultas ini telah menciptakan ekosistem belajar yang sehat dan inklusif. FKP
percaya bahwa seorang sarjana yang berbudaya akan memiliki cara pandang yang
lebih luas dalam memecahkan masalah pangan. Hal ini menjadikan FKP UNESA
sebagai rumah bagi para talenta muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual,
tetapi juga kaya akan kecerdasan emosional dan kreativitas yang tak terbatas.
Dari
perspektif dampak bagi masyarakat, keberadaan mahasiswa yang memiliki kepekaan
seni ini akan membawa perubahan positif dalam pola komunikasi sains. Masyarakat
membutuhkan ahli pangan yang mampu melakukan pendekatan sosial-budaya melalui
komunikasi yang menarik dan inspiratif. Lulusan FKP yang terbiasa berinteraksi
melalui panggung seni diproyeksikan akan lebih mudah merangkul masyarakat dalam
mensosialisasikan program kedaulatan pangan, menjadikan setiap kebijakan terasa
lebih "bernyawa" dan membumi bagi seluruh lapisan rakyat Indonesia.
Seiring
dengan berakhirnya penampilan terakhir di Selasar S-2, tepuk tangan meriah
menjadi penutup yang manis bagi rangkaian hari kedua FERION 2025. Melodi yang
telah dimainkan dan tarian yang telah dibawakan akan terus bergema sebagai
pengingat akan kuatnya ikatan kekeluargaan di FKP UNESA. Dengan semangat
"Satu Langkah di Depan", mahasiswa FKP siap melangkah keluar dari
panggung menuju dunia nyata, membawa bekal ketangguhan, kreativitas, dan cinta
untuk mewujudkan masa depan pangan Indonesia yang lebih cerah dan berperadaban.
Share It On: