Saat Teknologi Berpadu dengan Pemuda Gen Z dan Ketahanan Pangan
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan revolusi industri 4.0, generasi muda Indonesia, khususnya Gen Z, menghadapi tantangan sekaligus peluang besar dalam membentuk masa depan ketahanan pangan nasional. Salah satu sektor yang kini tengah bertransformasi secara signifikan adalah peternakan, bidang yang selama ini kerap dianggap “tradisional” namun kini mulai bersinar berkat sentuhan teknologi komputasi. Menjelang hari Sumpah Pemuda di 28 Oktober 2025 ini, penulis ingin mengangkat tema Gen Z, Komputasi, dan Peternakan.

Bayangan tentang peternakan
sebagai pekerjaan fisik yang kotor dan melelahkan mulai bergeser. Kini, dengan
hadirnya teknologi seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI),
dan sistem informasi manajemen peternakan, para peternak dapat memantau
kesehatan hewan, mengatur pakan otomatis, hingga memprediksi hasil produksi
dengan akurasi tinggi. Sebuah studi dari salah satu Universitas di Surabaya
menyoroti bagaimana integrasi teknologi dalam peternakan telah menciptakan
sistem “smart farming” yang mencakup precision feeding, monitoring suhu kandang
secara real-time, hingga penggunaan drone untuk pengawasan lahan peternakan.
Pada tahun 2024,
Indonesia sempat diguncang oleh merebaknya kembali wabah Penyakit Mulut dan
Kuku (PMK) yang menyerang ribuan ternak di berbagai daerah. Namun, di tengah
krisis tersebut, muncul kisah inspiratif dari sebuah peternakan sapi perah di
Lembang, Jawa Barat, yang berhasil meminimalkan dampak wabah berkat sistem
monitoring berbasis IoT. Dengan sensor yang dipasang di tubuh sapi, peternak
dapat memantau suhu tubuh, aktivitas makan, dan pergerakan hewan secara
real-time melalui aplikasi di ponsel. Ketika ada sapi yang menunjukkan gejala
demam atau penurunan aktivitas, sistem secara otomatis mengirimkan notifikasi
ke peternak untuk segera melakukan isolasi dan penanganan dini. Kisah ini
menjadi bukti nyata bahwa teknologi bukan hanya mempermudah pekerjaan, tetapi
juga menyelamatkan aset penting dalam rantai ketahanan pangan.
Gen Z: Digital
Native yang Ditunggu Dunia Peternakan
Sebagai generasi
yang lahir dan tumbuh di era digital, Gen Z memiliki keunggulan dalam menguasai
teknologi. Namun, sayangnya, minat mereka terhadap sektor pertanian dan
peternakan masih tergolong rendah. Menurut penelitian yang dilakukan oleh
Kementerian Pertanian, salah satu tantangan utama adalah citra sektor ini yang
dianggap kurang “keren” dan tidak menjanjikan. Padahal, justru Gen Z-lah yang
paling potensial untuk membawa angin segar dalam dunia peternakan. Dengan
kemampuan mereka dalam coding, data science, dan pemanfaatan
media sosial, Gen Z bisa menjadi pionir dalam menciptakan inovasi peternakan
digital yang efisien, berkelanjutan, dan menarik bagi generasi mereka sendiri.
Salah satu contoh
sukses datang dari startup “KlikTernak”, yang didirikan oleh sekelompok anak
muda lulusan fakultas peternakan dan teknik informatika. Mereka menciptakan
platform digital yang menghubungkan peternak kecil dengan pasar, menyediakan
pelatihan daring, serta layanan konsultasi kesehatan hewan secara virtual. Dengan
pendekatan ini, KlikTernak berhasil meningkatkan pendapatan peternak lokal
hingga 40% dalam waktu satu tahun. Mereka juga aktif mengedukasi masyarakat
melalui konten-konten edukatif di media sosial, menjadikan peternakan sebagai
topik yang relevan dan menarik bagi anak muda.
Kisah-kisah di atas
menunjukkan bahwa peternakan bukanlah sektor yang tertinggal zaman. Justru,
dengan tantangan perubahan iklim, krisis pangan global, dan kebutuhan akan
produksi pangan berkelanjutan, sektor ini membutuhkan inovator muda yang mampu
menjembatani dunia digital dan dunia nyata. Bagi mahasiswa Fakultas Ketahanan
Pangan, ini adalah panggilan untuk bertindak. Apakah kita hanya akan menjadi
penonton di tengah perubahan ini, atau justru menjadi pelaku utama yang membawa
transformasi? Ayo, Bangun Masa Depan Peternakan Bersama! Karena di era
ini, menjadi peternak bukan hanya soal memberi makan ternak. Tapi juga soal
memberi makan masa depan.
Share It On: