Promosikan Ikan Lokal, Dukung Ketahanan Pangan
Surabaya, JatimUPdate.id - Pernahkah Anda menikmati lezatnya nasi boranan? Nasi khas Lamongan ini memiliki citarasa yang unik karena menggunakan ikan sili sebagai salah satu bahan lauk utamanya. Ikan sili merupakan ikan air tawar lokal yang memiliki cita rasa gurih. Atau mungkin Anda sudah tidak asing lagi dengan penyet wader? Kuliner Jawa Timur yang terdiri atas ikan wader goreng, sambal dan lalapan ini juga cukup popular di kalangan masyarakat.
Di tengah meningkatnya tantangan global terhadap ketahanan pangan, Indonesia memiliki satu keunggulan yang belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal, yakni kekayaan ikan lokal. Negara kita memiliki lebih dari 17.000 pulau, garis pantai yang panjang, dan perairan tropis yang subur. Potensi ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penghasil ikan terbesar di dunia. Namun sayangnya, konsumsi ikan lokal di masyarakat masih kalah dengan ikan-ikan introduksi.
Menurut FAO, ketahanan pangan terjadi ketika semua orang, setiap saat, memiliki akses fisik, sosial, dan ekonomi terhadap pangan yang cukup, aman, dan bergizi untuk memenuhi kebutuhan gizi mereka dan hidup aktif dan sehat. Dalam konteks ini, ketahanan pangan bukan hanya persoalan ketersediaan pangan, tetapi juga aksesibilitas, stabilitas pasokan, dan nilai gizi dari bahan pangan itu sendiri.
Ikan merupakan sumber protein hewani yang kaya akan asam lemak omega-3, vitamin D, B2 (riboflavin), kalsium, fosfor, serta mineral seperti besi, zinc, dan magnesium. Dengan demikian, konsumsi ikan lokal secara teratur berkontribusi langsung terhadap perbaikan gizi masyarakat, khususnya pada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia.
Mengapa ikan lokal?
Indonesia memiliki keanekaragaman spesies ikan yang tinggi, dan ratusan di antaranya memiliki nilai ekonomi dan gizi yang tinggi. Jawa Timur memiliki kekayaan jenis ikan lokal yang tinggi, di antaranya: wader, tawes, gurami, sengkaring, uceng, hampala, betik, sepat jawa, dewa, jelawat, belida, areng-areng, kalabau, muraganting, nilem, lele lokal, dst.
Promosi ikan lokal berdampak langsung terhadap peningkatan ekonomi pembudidaya, dan pelaku usaha perikanan skala kecil. Jika pasar domestik lebih menyerap ikan lokal, maka rantai pasok dari produksi hingga konsumsi akan menjadi lebih kuat dan mandiri. Selain itu, ikan lokal yang dibudidayakan cara berkelanjutan memiliki jejak karbon yang lebih rendah dibandingkan produk-produk lain.
Tantangan Budidaya Ikan Lokal
Sayangnya, upaya untuk pengembangan dan promosi ikan lokal masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu yang utama adalah “stigma sosial”. Ada anggapan bahwa ikan lokal tidak "seprestise" ikan konsumsi lainnya. Masyarakat juga kurang mengenal ikan lokal karena biasanya sulit dijumpai di pasaran. Selain itu, dari aspek budi daya, ikan lokal juga relatif sedikit dipelajari sehingga proses untuk budi daya belum bisa dilakukan secara masif. Pemenuhan kebutuhan pasar masih mengandalkan hasil tangkapan.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Promosi: Pemerintah, akademisi, media, dan sektor swasta harus bersinergi melakukan kampanye edukatif tentang manfaat ikan lokal. Kampanye ini tidak cukup hanya berbasis promosi produk, tapi juga harus membangun narasi kebanggaan terhadap produk lokal, termasuk ikan lokal.
Diversifikasi produk: Ikan lokal harus masuk ke dalam sistem pangan modern. Artinya, perlu ada inovasi dalam bentuk produk olahan: bakso ikan, sosis ikan, nugget ikan, hingga makanan siap saji berbasis ikan yang menarik bagi anak-anak dan generasi muda. Ikan wader, ikan uceng, kini tambil dalam beragam olahnya, misalnya cemilan crispy yang popular di kalangan generasi muda.
Penguatan Budidaya Berkelanjutan: Berbagai riset dan kajian harus dilakukan untuk mendukung proses pembudidayaan ikan lokal, khususnya ikan lokal Jawa Timur. Oleh karena itu, Program Studi S1 Akuakultur hadir dengan penguatan riset terkait ikan lokal sebagai salah satu potensi lokal yang ada di Jawa Timur.
Artikel ini telah diterbitkan pada tautan berikut
https://jatimupdate.id/baca-12406-promosikan-ikan-lokal-dukung-ketahanan-pangan
Waktu Terbit: 28 Agustus 2025
Redaksi: Wahyu Bahrudin
Penulis: Reni Ambarwati, S.Si., M.Sc.. (Koordinator Prosi S1 Akuakultur FKP Unesa)
Share It On: