Merancang Ketahanan Pangan dari Generasi Muda
Perang Israel-Iran membuat kondisi geopolitik menjadi kian panas. Perang tidak hanya mengancam kekacauan kawasan, tapi juga dikhawatirkan akan berdampak global. Apalagi jika Iran benar-benar menutup selat Hormuz yang merupakan lalu lintas laut yang sangat padat. Sebab, menjadi jalur yang mengangkut energi dan pangan. Bagai Indonesia, kekacauan itu harus diantisipasi sejak dini. Apalagi, di sektor pangan, faktor perubahan iklim juga menjadi ancaman yang bisa mengganggu produksi dalam negeri. Memastikan ketahanan pangan nasional harus menjadi fokus bagi pemerintah. Sebab, itu akan menjadi fondasi penting untuk mencapai kedaulatan, kemandirian, dan kesejahteraan bangsa. Ketahanan pangan sudah menjadi program peerintahan presidan Prabowo Subianto yang bisa dilihat dari program astacita.
Pada poin kedua pemerintah akan menetapkan sistem pertahanan keamanan negara dan kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru. Dalam program itu, pemerantah ingin menwudujkan ketahanan pangan menuju swasembada pangan. Sebagai negara yang memiliki lebih dari 74 ribu desa, Indonesia memiliki sumber daya pangan yang melimpah. Apalagi, didukung tradisi gotong royong yang menjadi modal sosial. namun, kenyataannya, desa-desa yang menjadi penghasil pangan justru sangat rentan terhadap krisis pangan.
Menghadapi tantangan itu, diperlukan kolaborasi antarsektor dan generasi. Dalam konteks ini, diperlukan pendekatan yang melibatkan masyarakat dengan partisipasi generasi muda, lembaga ekonimi desa, dan koperasi. Sinergi ketiganya sangat potensial menciptakan ekosistem pertanian yang berkelanjutan dan mandiri untuk memperkuat ketahanan pangan.
TARIK MINAT GENERASI MUDA
Transformasi di sektor pertnaian memerlukan percepatan baru, tanpa bergantung pada cara yang sudah usang. Klinik Tani Sirkular Milenial hadir sebagai inisiatif yang regeneratif ditengah menurunnya minat generasi muda terhadap dunia pertanian. KTSM Mengabungkan teknologi pertanian modern dengan prinsip ekonomi berkelanjutan, dan pendidikan pertanian untuk mendorong generasi milenial dan gen Z untuk terlibat aktif dalam sektor pertanian.
Generasi itu harus menjadi motor penggerak dalam bidang pertanian dan bukan sekedar pelengkap. Praktik itu, salah satunya, diwujudkan Fakultas Ketahanan Pangan (FKP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Berkolaborasi dengan Polda Jawa TImur dan Polresta Sidoarjo, Unesa meluncurkan KTSM Semeru di Desa Ponokawan, Kecamatan Krian, Sidoarjo. Program tersebut menawarkan edukasi dan pendampingan kepada petani muda dalam mengelola sektor pertanian secara efisien dan ramah teknologi digital.
Terdapat juga ruang podcast "Suara Petani" yang berfungsi sebagai sarana edukasi dan promosi untuk mengenalkan sert memasarkan produk-produk pertanian secara daring. Selain itu, tersedia Agrimart sebagai etalase produk. Klinik itu juga menerapkan sistem pertanian terpadu dengan cara sirkular, seperti pemanfaatan limbah jagung menjadi pakan ternak dan limbah ternak sebagai pupuk organik.
Dalam kolaborasi itu, BUMDes dilibatkan karena memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan pangan di tingkat desa. BMDes dapat menjamin ketersediaan pangan yang konsisten, terutama saat terjadi masa sulit atau gangguan pasokan melalui program lumbung pangan. Bersama KTSM, BUMDes, dan Koerasi Desa Merah Putih, Unesa memberikan edukasi dan pendampingan bagi petani, peternak, serta nelayan untuk meningkatkan produktivitas dan pemasaran hasil pertanian mereka. BUMDes memiliki peran strategis dalam memperkuat sistem nilai di sektor pertanian, Statud BUMDes sebagai badan usaha milik desa berpotensi menjadi pendukung utama dalam distribusi hasil pertanian, menyediakan akses ke pembiayaan, serta mengelola tempat penyimpanan bahan pangan.
Meski demikan, BUMDes juga dihadapkan pada beberapa tantangan seperti keterbatasan dana dan infrastruktur, kurangnya tenaga kerja yang terampil, fluktuasi harga pangan, serta akses pasar yang terbatas, Oleh karena itu, dukungan dari pemerintah terkait akses ke odal dan infrastruktur sangat penting.
MAKSIMALKAN PERAN KOPERASI DESA MERAH PUTIH
Keberadaan Koperasi Desa Merah Putih juga sangat penting dalam kolaborasi menciptakan ketahanan pangan ini. KDMP juga berfungsi untuk menyerap produk hasil pertanian, peternakan, dan perikanan yang tidak dpat dijangkau pasar tradisional. Mereka menerima hasil pertanian lokal, memprosesnya mejadi produk olahan, lalu memasarkan produk terebut melalui platform digital milik desa sehingga secara ekonomi dapat memberikan nilai tambah produk tersebut.
KDMP merupakan program inisiatif pemerintah pusat ntuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat desa dan kelurahan melalui pembentukan koperasi. Program itu merupakan bagian dari delapan program prioritas presiden yang tertuang dalam instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025. Targetnya adalah membentuk 80.000 koperasi desa dan kelurahan di seluruh Indonesia.
KDMP adalah sebuah inisiatif nasional yang bertujuan mengubah pola distribusi pangan dari model yang eksploitatif menjadi lebih inklusi dan berbasis komunitas. Kerja sama antara tiga pilar (KTSM Semeru, BUMDes, dan KDMP) bukan sekedar gagasam teoritis, melainkan sebuah rencana pengembangan desa yang terintegrasi. Klinik Tani berperan sebagai pusat inovasi dan pendidikan; BUMDs berfungsi sebagai penggerak perekonomian lokal dan distribusi; dan Koperasi Desa Merah Putih berperan dalam memperluas akses pasar.
Di masa mendatang, penggabungan data dari Klinik Tani dengan sistem logistik koperasi dan pembiayan yang berasal dari BUMDes dapat menwujudkan ekosistem pangan yang kuat di tingkat desa. Bahkan integrasi itu memiliki potensi menjadi dasar bagi digitalisasi sektor pangan di desa, yang mencakup pencatatan panen, distribusi pupuk, serta sistem harga yang fleksibel sesuai dengan permintan dan penawaran lokal.
Ketahanan pangan nasional dimulai dari lahan-lahan di desa, bukan dari gedung-gedung pemerintah atau pabrik besar. Dengan mengombinasikan semangat muda dari Klinik Tani, kekuatan ekonomi BUMDes, dan solidaritas dari Koerasi Desa Merah Putih, desa-desa di Indonesia dapat berada di garis depan ketahanan pangan.
Mengembangkan ketahanan pangan bukanlah pilihan, melainkan sebuah keharusan, Dan, itu harus dimulai dari dasar-dasar desa kita. Di sanalah petanin menanam harapan, nelayan mencari nafkah, dan masyarakat melestarikan tradisi lokal yang menopang kehidupan sehari-hari. Ketika desa memiliki kekuatan, kebutuhan pangan akan terpenuhi. Masa depan bangsa pun akan lebih terjamin. Dengan demikian, penting untuk menjadikan desa sebaai pusat peradaban dan fondasi yang kuat untuk masa depan Indonesia yang mandiri dan berdaulat. Mengembangkan ketahanan pangan sama dengan membangun masa depan. Dan, masa depan bangsa, sekali lagi, harus dimulai dari desa.
Artikel ini telah diterbitkan pada tautan berikut
https://epaper.hariandisway.com/books/ncbg/#p=12
Waktu Terbit: 26 Juni 2025
Redaksi: Hariandisway
Penulis: Dr. Ahmad Ajib Ridlwan, M.SEI. (Wakil Dekan II FKP Unesa)
Share It On: