Menjamin Akses Kemandirian Nutrisi Hayati Wilayah: Lewat Inisiasi Budidaya Maggot, FKP UNESA Tegaskan Solusi Pengurangan Limbah Urban
SURABAYA – Menjaga ketahanan pangan masa depan tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kelestarian lingkungan dan mengoptimalkan siklus alam secara bijaksana. Nilai kemanusiaan yang selaras dengan kelestarian bumi itulah yang melandasi pertemuan strategis di kampus berlambang singa ini. Pada Selasa pagi (23/06/2026), Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melalui Fakultas Ketahanan Pangan (FKP) menyambut hangat kunjungan inisiasi kerja sama dari Paguyuban Pegiat Maggot Nusantara (PPMN) Wilayah Jawa Timur. Pertemuan penting yang berfokus pada diskusi penjajakan kerja sama pengembangan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) di lingkungan kampus ini diselenggarakan secara khidmat dan penuh kekeluargaan di Ruang Sidang Dekan FKP, Gedung FKP UNESA Kampus 3 Moestopo, Surabaya.

Agenda diskusi ini dihadiri oleh
jajaran pakar lintas sektor yang siap mengawal integrasi sains dan bisnis
berkelanjutan. Selain Dekan FKP Prof. Nining Widyah Kusnanik, hadir pula Wakil
Dekan Bidang Perencanaan, Keuangan, Sumber Daya, dan Umum, Dr. Ahmad Ajib
Ridlwan, Ketua Tim Kerja Sama FKP Bapak
Amirusolihin, serta Kepala Laboratorium
Bisnis dan Pangan Berkelanjutan FKP Bapak Rendra Lebdoyono, Serta kehadiran tim
internal FKP ini diperkuat oleh Dr. Eko Wahjudi selaku Direktur Pengelolaan dan
Apresiasi Kinerja UNESA sekaligus pakar ekonomi UNESA. Sementara itu, delegasi
PPMN Jawa Timur dipimpin langsung oleh sang koordinator wilayah, drg. Winaryo,
yang membawa misi besar untuk membumikan teknologi sirkular hayati di dunia akademik.
Kegiatan dibuka dengan penuh kehangatan oleh Dekan FKP UNESA, Prof. Dr. Nining Widyah Kusnanik yang memaparkan selayang pandang mengenai keunggulan, visi, serta jati diri FKP UNESA sebagai fakultas ketahanan pangan pertama dan satu-satunya di Indonesia. Beliau menegaskan bahwa sebagai garda terdepan inovasi pangan, FKP memiliki tanggung jawab moral untuk memelopori lahirnya teknologi ramah lingkungan yang berdampak langsung pada penguatan kualitas nutrisi hayati dari hulu ke hilir.

"Kehadiran rekan-rekan PPMN
Jawa Timur di 'Rumah Para Juara' pagi ini membawa angin segar bagi masa depan
kedaulatan pangan berbasis lingkungan. Kami menyadari bahwa inovasi dalam
bidang ketahanan pangan tidak boleh egois namun harus mampu menyelesaikan
masalah lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas nutrisi bahan pangan hayati,
baik di sektor pertanian, perkebunan, peternakan, hingga perikanan. Inisiasi
budidaya maggot BSF ini adalah wujud nyata dari tekad kami untuk menciptakan
ekosistem kampus yang tidak hanya memproduksi ilmu pengetahuan, melainkan
menjadi laboratorium hidup yang menghidupi masyarakat dengan solusi pangan yang
aman, bersih, dan berkelanjutan," tutur Prof. Nining dengan senyum penuh
keramahan.
Usai pemaparan selayang pandang fakultas, suasana diskusi kian interaktif saat drg. Winaryo selaku Koordinator PPMN Jawa Timur memaparkan potensi luar biasa dari budidaya biokonversi maggot BSF. Beliau menjelaskan secara detail bagaimana larva lalat tentara hitam ini memiliki kemampuan mengurai sampah organik dalam waktu kurang dari 24 jam, sekaligus membagikan simulasi nilai ekonomi dan manfaat sirkular yang bisa diadopsi oleh dunia kampus.

"Kami di PPMN Jawa Timur
merasa sangat terhormat dapat bersinergi dengan FKP UNESA. Maggot BSF ini
adalah makhluk kecil titipan Tuhan yang memiliki keajaiban besar untuk
menyelesaikan problem lingkungan perkotaan. Selain menjadi mesin pengurai limbah
organik yang sangat cepat, larva ini adalah sumber pakan alternatif premium
kaya protein untuk unggas dan ikan, sementara sisa medianya atau kasgot
menjelma menjadi pupuk organik bermutu tinggi. Menghadirkan budidaya ini di
UNESA adalah langkah strategis untuk mengedukasi generasi muda bahwa dari
limbah sisa makanan, kita bisa melahirkan rantai ekonomi baru yang sangat
mandiri dan menjanjikan," urai drg. Winaryo dengan penuh antusiasme.
Ditinjau dari perspektif ekonomi, inisiasi budidaya ini dinilai sangat prospektif dan menjanjikan keuntungan yang signifikan jika dikelola dengan tata kelola manajemen yang tepat. Dr. Eko Wahjudi, M.Si., selaku pakar ekonomi terkemuka UNESA, memberikan analisis mendalamnya mengenai bagaimana modal yang relatif murah dalam budidaya maggot mampu menghasilkan dampak finansial yang tinggi bagi institusi dan masyarakat binaan.

"Dari kacamata ekonomi
berkelanjutan, proyek inisiasi ini adalah contoh sempurna dari efisiensi biaya
(cost efficiency) produksi pangan. Budidaya maggot membutuhkan biaya
operasional yang sangat rendah karena pakannya memanfaatkan sampah organik
gratis, namun produk turunannya memiliki nilai jual yang tinggi di pasar
peternakan dan pertanian. Jika FKP UNESA mampu mengawinkan teknologi budidaya
ini dengan formulasi bisnis yang tepat melalui Laboratorium Bisnis dan Pangan
Berkelanjutan, kita tidak hanya berkontribusi pada ekonomi sirkular lokal,
tetapi juga mencetak model bisnis sosiopreneur berbasis lingkungan yang sangat
menggiurkan dan tangguh terhadap inflasi global," papar Dr. Eko Wahjudi
secara komprehensif.
Keunggulan FKP UNESA tercermin nyata pada kapasitas laboratoriumnya yang siap mengintegrasikan budidaya maggot ini ke dalam riset-riset mutakhir pemenuhan gizi hayati. Dampak keberadaan FKP bagi masyarakat dari berbagai perspektif pun diproyeksikan akan semakin masif melalui kerja sama ini. Dari perspektif ekologi, kampus menjadi pelopor gerakan zero waste yang membantu pemerintah daerah mengurangi beban tempat pembuangan akhir. Dari perspektif sosial-kemasyarakatan, transfer teknologi murah ini akan mempermudah para peternak dan petani kecil di Jawa Timur mendapatkan akses pakan serta pupuk berkualitas tinggi dengan harga yang jauh lebih terjangkau, sehingga mempercepat terwujudnya kemandirian ekonomi keluarga.

Secara fundamental, pelembagaan
ekosistem budidaya biokonversi berbasis pengelolaan limbah domestik ini
merupakan manifestasi riil dalam menyokong agenda pemenuhan hak kesejahteraan
manusia dan kelestarian ekosistem bumi global. Kegiatan inisiasi kerja sama
antara FKP UNESA dan PPMN ini berkontribusi langsung pada upaya menghapus
kemiskinan melalui penciptaan lapangan kerja baru, meneguhkan visi mengakhiri
kelaparan dan menjamin kecukupan gizi lewat penyediaan pakan ikan dan
ternak tinggi protein, mendukung kehidupan sehat dan sejahtera melalui
reduksi timbulan sampah pembawa penyakit, serta memayungi hak pendidikan
berkualitas lewat ruang riset agroindustri sirkular bagi mahasiswa. Lebih
lanjut, inisiatif inovatif ini mendorong konsep pekerjaan layak dan
pertumbuhan ekonomi berbasis pemanfaatan kasgot, memicu tumbuhnya industri,
inovasi, dan infrastruktur melalui teknologi pengolahan pakan alternatif,
mewujudkan tata kota dan pemukiman yang berkelanjutan lewat sistem
penguraian sampah perkotaan yang responsif, serta memperkokoh kemitraan
untuk mencapai tujuan antara perguruan tinggi tinggi dan paguyuban pegiat
lingkungan.
Sisi inspiratif dari pertemuan
pagi itu tidak berhenti pada tataran diskusi di dalam ruangan. Seluruh peserta
yang hadir sepakat bahwa langkah tindak lanjut dari inisiasi ini adalah
pembangunan pilot project laboratorium alam budidaya maggot terpadu di
lingkungan kampus. Langkah edukatif ini dirancang untuk menginspirasi
masyarakat urban bahwa keterbatasan ruang dan stigma kotor seputar pengelolaan
sampah dapat dipatahkan dengan sentuhan sains dan teknologi tepat guna,
sekaligus menjadi sarana edukasi bagi keluarga-keluarga di Jawa Timur untuk
mulai mandiri memproduksi pakan dan pupuk organik dari dapur mereka sendiri.
Melalui inisiasi kerja sama
strategis bersama PPMN Jawa Timur ini, eksistensi Fakultas Ketahanan Pangan
UNESA sebagai satu-satunya fakultas ketahanan pangan di Indonesia akan semakin
luas dikenal, dicintai, dan diakui kontribusi nyatanya oleh masyarakat luas. Di
"Rumah Para Juara", setiap langkah riset dan pengabdian yang membumi
adalah ikhtiar luhur untuk senantiasa berjalan satu langkah di depan demi
mempersembahkan karya kemanusiaan terbaik bagi kemakmuran, kesehatan, dan
kedaulatan pangan bangsa Indonesia.
Share It On: